7 Alasan Kenapa Yogyakarta Paling Pas Disebut “Kota Para Mantan”

Bahkan jika kamu nggak punya mantan sekalipun 🙂

Magnet Yogyakarta sebagai kota romantis begitu kuat. Ya seninya, ya suasananya, kulinernya, keramahan orang-orangnya, semuanya melebur jadi satu membikin semua yang pernah datang ingin balik lagi ke kota gudeg ini. Sebab, tiap kali ke sana, mereka akan ikut hanyut dalam romansa entah apa yang tiba-tiba memenuhi kepala.

Sebenarnya Yogyakarta menjadi istimewa di hati saya sejak saya pernah dekat dengan pria Jawa asal Yogya yang senang membicarakan kota kelahirannya—waktu itu saya masih menetap di Medan. Dia senang membangga-banggakan kehalusan dan kelembutan orang Yogya yang sangat berbeda dengan orang-orang Medan yang cenderung meledak-ledak. Dia sering bertutur tentang Jalan Malioboro yang teduh, yang bila kita jalan lurus saja bisa sampai ke Keratonnya. Tentang musisi jalanan di kaki lima dan rasa gudeg yang khas—makanan manis itu tak cocok di lidah setelah saya mencobanya. Dia selalu bilang akan membawa saya ke Candi Prambanan dan menyaksikan susunan batu-batu purba di tengah kota itu bersama-sama. Lalu tahun terus berganti dan saya sudah menginjakkan kaki ke Prambanan serta tempat-tempat lain di Yogyakarta tanpa sekali pun bersamanya.

Rasanya bukan saya saja yang punya pengalaman serupa itu: jatuh cinta, patah hati, dengan Yogya sebagai setting cerita. Sampai sekarang, mantan silih berganti, tapi setiap kali mendatangi Yogya saya selalu ingat dia yang mengenalkan eksotika Yogyakarta lewat ceritanya.

Tampaknya Yogyakarta memang paling pas disebut kota para mantan, bahkan bagi yang nggak punya mantan sama sekali. Kota romansa, yang bisa bikin para jomblo by choice pun mendadak mellow galau terbawa pesonanya. Saya sampai pada kesimpulan itu bukan karena baperan tiap kali ke Yogya, tetapi oleh banyaknya faktor yang kemudian membentuk Yogya menjadi kota cinta—entah jatuh cinta, entah putus cinta, yang jelas kota cinta. Paling sedikit ada tujuh alasan yang saya tahu:

1. Kla Project Sudah “Menyanyikannya” Lebih Dulu

Setiap mendengar lagu lawas Yogyakarta, siapa yang tak teringat dengan Yogya dan terbawa mellow oleh syairnya? Saat jalan-jalan ke Yogyakarta pun, kita selalu terhipnotis untuk mengunjungi jalanan Malioboro atau deretan angkringan Kopi Joss di belakang Stasiun Tugu, lalu ketika bertemu pengamen sontak request lagu Yogyakarta!

2. Cinta dan Rangga, "Pasangan Mantan Belasan Tahun", Bertemu di Yogyakarta

Terkesan maksa? Berharap, boleh, dong! Kalaupun tidak bisa balik lagi dengan mantan, datang ke Yogyakarta dan membayangkan kalau kota ini membuat "pasangan mantan belasan" tahun itu balikan lagi, seperti memunculkan harapan bahwa kesempatan bertemu cinta bisa mungkin terjadi di Yogyakarta.

3. Kasih Tak Sampai di Candi Prambanan

Candi Prambanan telah terlebih dahulu menuturkan kisah yang sama: cinta tak sampai, bahkan berujung dendam, ketika Bandung Bondowoso mengutuk Rara Jonggrang karena mempermainkan kesungguhannya. Banyak mitos terkait Candi Prambanan dengan mantan, seperti jangan datang ke sana bersama pacar karena bakal putus dan tidak sampai ke pelaminan.

4. Kelembutan Orang-orang Yogyakarta yang Ngangenin

Pacaran dengan orang Yogyakarta itu ibarat makan gudeg, rasa manisnya akan tetap tertinggal di gigi—bikin ngilu! Orang Yogya terkenal lembut dan tahu bagaimana memperlakukan pasangan dengan lembut. Kamu bakal merasakan perbedaannya kalau kamu berasal dari luar Jawa. Itulah yang bikin kamu susah melupakan "mantan Jawa"-mu.

5. Romantika Perjalanan Kereta sebagai Kenangan Terindah

Bukan soal mengirit atau menghemat maka kereta dipilih sebagai transportasi Jakarta–Yogyakarta. Kalau kamu punya pengalaman bepergian dengan kereta berdua pacar dan menghabiskan 8 jam berhimpitan di gerbong sembari tenggelam dalam percakapan membincang masa depan yang pada akhirnya tak kesampaian juga, momen berkendara kereta menuju Yogyakarta tak akan pernah sama lagi. Percayalah, romantikanya akan lebih terasa. Terutama bagi kamu yang ditinggal di stasiun dan dijanjikan akan kembali tapi orangnya tak balik-balik. Loh, curcol....

6. Banyak Lokasi Mojok dengan Atmosfer yang Membangun untuk Jatuh Cinta

Angkringan Yogyakarta

Angkringan Yogja (Foto: Ester Pandiangan)

Ada banyak tempat nongkrong di Yogya yang menciptakan pertemuan-pertemuan tak terduga. Kawasan Taman Pintar, misalnya, atau Malioboro, angkringan di Jalan Mangkubumi, kafe-kafe unyu seperti di area Cokrodiningratan sampai yang masih in seperti House of Raminten dan Via-Via Prawirotaman tempat Cinta membeli kuih. Itu semua spot-spot yang potensial mempertemukanmu dengan cinta-cinta yang baru untuk patah hati berulang kali, sehingga suatu saat ketika kamu datang kembali ke tempat itu, ada sesuatu yang membangkitkan ingatanmu: kenangan bersama mantan!

7. Salah Satu Kota yang Paling Sering Menjadi Lokasi Shooting Film Romantis

Kalau kamu termasuk penggemar sinetron atau FTV, pasti ngeh kalau Yogyakarta sering dijadikan lokasi pengambilan gambarnya. Adalah yang tak sengaja bertemu di Malioboro, jadi guide buat turis luar kota lalu jatuh cinta, pria keraton yang menyukai perempuan biasa, dsb. Yogyakarta memang dibingkai menjadi tempat yang romantis dan membangun hasrat jatuh cinta.

Makanya, “hati-hati” kalau jalan-jalan ke Yogja. Kota itu bikin kamu gampang terbawa suasana sehingga mudah meletakkan hati. Tanpa kamu sadari, kamu sudah punya “mantan” saja di sini. Ah!

Tags:

Tanggapi tuturan di atas?

Leave a reply

Atur ulang Katasandi