Museum Zoologi, Wisata Edukasi yang Unik dan Asyik

Kuno, seram, membosankan!!! Mungkin ini yang tebersit di sebagian besar benak ketika mendengar kata ‘museum’. Padahal dari museum bisa didapat berbagai pengetahuan yang mengagumkan, sekaligus foto-foto keren yang instagramable. Di balik koleksi-koleksi museum ada kisah dan proses yang menakjubkan, yang bisa memicu kesadaran untuk lebih tekun dan lebih bersyukur.

Nah, kali ini, mari kita intip berbagai keunikan Museum Zoologi berikut koleksi dan sejarahnya!

Pintu masuk Museum Zoologi (Foto: Joyce Meilanita)

Keberadaan Museum Zoologi tidak terlepas dari Kebun Raya Bogor. Keduanya didirikan untuk penelitian dan pelestarian flora dan fauna. Awalnya, museum ini digagas oleh ahli botani Jerman, J.C. Koningsberger, difungsikan sebagai laboratorium kecil “Landbouw Zoologisch Laboratorium” (Laboratorium Pertanian dan Zoologi) untuk meneliti hama pertanian.

Menilik sejarahnya, museum yang sudah berganti nama 11 kali sejak didirikan tahun 1894 ini pernah dijuluki ‘Gedung Bulao’ karena fisik bangunannya yang bercat biru. Bulao atau blao adalah bubuk kebiruan yang sering dipakai untuk mencuci pakaian agar warnanya tetap cerah dan putih cemerlang.

Gedung "Bulao" Museum Zoologi Bogor

Gedung "Bulao" (Foto: Joyce Meilanita)

Berbagai spesies fauna dan habitatnya dapat dilihat dan dipelajari di Museum Zoologi, meskipun hanya menampilkan hewan yang diawetkan, namun cukup menunjukkan keanekaragaman fauna nusantara. Serangga berukuran kecil hingga fosil paus biru sepanjang 26 m menjadi koleksi museum ini. Diorama yang menampilkan hewan dan habitatnya ikut melengkapi wisata edukasi yang disajikan. Rusa yang bertarung dengan kawanan serigala, badak yang dikondisikan seperti dalam habitatnya, binatang melata, kepiting raksasa, dan burung kuau dengan bulu ekornya yang mekar dengan cantik, ikut mengisi diorama di ruang museum ini.

Indahnya ekor kuau yang mekar (Foto: Joyce Meilanita)

Walau museum ini tidak terlalu luas, namun lebih dari 2.000 spesies ditampilkan di dalamnya. Ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan koleksinya yang disimpan di museum rekanannya di kawasan Cibinong, Bogor.

Tulang belulang utuh makhluk terbesar di dunia, paus biru, menjadi ikon favorit di museum ini. Mamalia yang hidup di laut ini tidak bergigi dan menggunakan balen untuk menelan zooplankton makanannya. Saking besarnya, sepanjang 26 m, fosil paus biru menempati sebuah ruang tersendiri di dalam museum.

Fosil utuh paus biru sepanjang 26 m, ikon favorit di Museum Zoologi (Foto: Joyce Meilanita)

Museum Zoologi memang bukan kebun binatang yang menampilkan hewan-hewan dengan gerak-geriknya yang menggemaskan. Tapi justru di sinilah kita bisa dengan leluasa mengamati fauna yang biasanya jarang bisa dilihat dengan bebas.

Berbagai koleksi serangga dan kupu-kupu yang unik dan langka sangat menarik perhatian. Mulai dari ukuran sebesar ibu jari sampai dua telapak tangan orang dewasa, dengan warna-warni sayap dan bentuk yang memukau. Di sini, kita bisa mempelajari cara membedakan kupu-kupu jantan dan betina. Jadi penasaran, kan?

Sebenarnya, keberadaan Museum Zoologi patut membuat heran. Mengapa ahli-ahli botani dan zoologi dari Eropa, terutama Belanda, Jerman, dan Inggris datang ke Indonesia yang jaraknya belasan ribu kilometer? Kekayaan fauna seperti apa yang dimiliki Indonesia sampai mereka sangat penasaran dan ingin mempelajarinya? Nah, pertanyaan itu pula yang seharusnya menggelitik rasa penasaran kita sebagai orang Indonesia. Jangan sampai anugerah Tuhan yang luar biasa seolah-olah menjadi biasa karena kita berada dalam keindahan alam Indonesia.

Museum Zoologi buka setiap hari (Foto: Joyce Meilanita)

Ayo, ajak teman dan keluarga untuk berkunjung ke Museum Zoologi! Dijamin tidak rugi karena harga tiketnya sudah termasuk dalam tiket Kebun Raya Bogor yang relatif murah, lokasinya juga mudah dicapai dengan berbagai transportasi. Oiya… Museum Zoologi buka setiap hari, Senin–Jumat pukul 08.00–16.00 dan Sabtu–Minggu pukul 08.00–17.00.

Tanggapi tuturan di atas?

Leave a reply

Atur ulang Katasandi