Melambat di Pantai Losari

Saat kehidupan berjalan sangat cepat, saya memutuskan untuk melambat. Rutinitas yang padat dan tugas-tugas bertenggat sangat singkat membuat saya lambat laun sulit melihat esensi tiap kerja yang saya perbuat. Maka dari itu, kala situasi seperti ini datang, saya memutuskan untuk sejenak rehat.

Sialnya, sulit mendapatkan ruang terbuka hijau—tempat kesukaan saya untuk beristirahat—di Makassar, karena pola pembangunan kota ini cenderung melahap habis lahan-lahan kosong. Ya, sebuah pola pembangunan modern yang berorientasi pada peningkatan akumulasi ekonomi saja. Syukurnya, kota ini memiliki daerah pesisir. Jadi saya putuskan untuk ke pantai saja.

Orang Makassar menyebutnya Pantai Losari, sebuah ikon pariwisata utama dari ibukota Sulawesi Selatan yang sedang menggaungkan dirinya sebagai world class city. Pantai ini dikenal dengan banyaknya pedagang kaki lima yang menjajakan kuliner khas Makassar, pisang epe’, di sepanjang daerah Losari. Karena tergiur dengan cita rasanya, saya memesan dua porsi pisang epe’ sesaat setelah sampai di sana.

Arang dipanaskan, pisang muda diletakkan di atas pemanggang. Aroma pisang terpanggang segera menyerbak, terhirup oleh hidung pelancong yang sedang keroncongan ini. Penantian pisang mentah hingga ranum siap terhidang membawa saya melamun tentang sejarah Pantai Losari yang dulu pernah diceritakan ayah.

Melambat di Pantai Losari

Sandeq, perahu layar bercadik, di Pantai Losari (Foto: JokoKoil)

Beberapa bulan sebelum Indonesia merdeka, DM Van Switten—Walikota Makassar (dulu Ujung Pandang)—membuat kebijakan pembangunan kawasan Pantai Losari untuk melindungi beberapa objek  dan sarana strategis warga di Jalan Penghibur dari derasnya ombak Selat Makassar. Dipasanglah olehnya dinding beton berbentuk segitiga sepanjang 910 m. Salah satu bangunan yang hendak dilindunginya adalah Fort Rotterdam.

Fort Rotterdam adalah benteng pertahanan yang dibangun oleh Raja Gowa ke-9 pada tahun 1545. Di masa kejayaannya, benteng yang wujudnya menyerupai penyu ini merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Namun setelah Kerajaan Gowa dikalahkan oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda dan terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya, benteng ini kemudian dikuasai VOC dan dijadikan sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Setelah berpindah tangan, Cornelis  Speelman selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-14 kemudian menamai benteng itu Fort Rotterdam—sesuai kota kelahirannya. Mungkin saja saat itu ia sedang dirundung rindu kampung halaman setelah lama bergelut dengan urusan rempah dan perang.

Pantai Losari 1980-an

Pantai Losari tahun 1980-an (Foto: Kezia)

Pada saat bersamaan, Pantai Losari juga dipenuhi oleh aktivitas perdagangan antara nelayan dan pengepul. Sering kali hasil tangkapan dari laut dijual di kawasan ini, membuat Pantai Losari dulunya juga dikenal dengan nama Pasar Ikan. Samar-samar dalam ingatan, Saya perkirakan sentral perdagangan ikan itu hanya bertahan hingga awal 2008. Saya ingat betul, waktu itu saya masih duduk di bangku  sekolah menengah pertama saat pergi sekeluarga ke Pantai Losari, berburu ikan dan kerang hasil tangkapan di sekitar pantai dari pedagang di sana.

Namun pemandangan Pantai Losari kini tidak lagi dipenuhi riuh teriakan nelayan, pengepul, pedagang, dan pembeli hasil laut. Pada tahun-tahun berikutnya, pembangunan Pantai Losari diarahkan ke pengembangan pariwisata, dan mengubah pantai ini hanya menjadi ruang melancong bagi turis lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati pisang epe’ di sepanjang pantainya, atau sekadar merasai tamparan sepoi-sepoi angin Selat Makassar. Sementara itu, Fort Rotterdam yang dulunya tempat penampungan rempah-rempah kini beralih fungsi menjadi museum barang-barang antik, termasuk teks kuno Suku Bugis.

Lamunan saya mendadak terhenti ketika pedagang pisang epe’ menghidangkan sajiannya di meja saya. Baiklah, saya perlu sejenak melupakan gegasnya laju pembangunan yang destruktif terhadap apa saja yang tidak relevan dengan tujuannya. Saya ingin tak acuh terhadap usikan tenggat yang datang bersicepat silih berganti. Saya ingin melambat, selambat menyantap pisang epe’ dengan khidmat sembari menikmati angin Pantai Losari yang juga semilir melambat.

Tanggapi tuturan di atas?

Leave a reply

Atur ulang Katasandi