Forest Coffee, Kedai Kopi Gaya Alam Terbuka

Nama kedainya Forest Coffee & Food Camp. Saat memasuki ruangannya, saya membatin, "Ini betul di Depok, ya?"

Ya, barangkali saya norak, tapi memang ini kali pertama saya datang ke kedai yang beneran berkonsep alam terbuka. Ada hammock, ada tempat berkemah dengan tenda-tenda terpasang, ada tempat duduk dan meja yang alami, lalu ornamen-ornamen tradisional di sana-sini.

Ketika saya tiba, melihat parkiran yang begitu luas tapi hampir penuh, saya penasaran. Ternyata sedang ada acara kumpul komunitas di sana. Pantas saja. Pun kebetulan malam ini Malam Minggu, tak heran jika seramai ini. Sampai-sampai saat saya ke meja pemesanan ternyata waiting list.

"Biasanya pengunjung ramai di hari Sabtu dan Minggu, kini hampir setiap hari ramai," ujar Ita, pemilik dan pengelola Forest Coffee yang berlokasi di Jalan Muchtar Raya No. 69, Parung Bingung, Kota Depok, itu. "Dalam sehari ada sekitar 250 pengunjung, kalau weekend bisa sampai 500-an," lanjutnya.

Apa yang membuat Forest Coffee selalu ramai, bahkan di hari biasa?

"Konsepnya memang beda dari kafe-kafe lain, kemudian lokasinya strategis, dan yang terpenting adalah pendekatan dengan komunitas-komunitas di Depok kami jalin dengan baik,” tutur Ita menjawab pertanyaan saya.

Sesuai namanya, Forest Coffee & Food Camp memang mengusung tema hutan yang kental, yang tampak dari konsep tempat makan outdoor dan semi indoor-nya. Juga dari pilihan kursi dan mejanya yang berbahan kayu. Di beberapa titik, lantainya berupa batu kerakal. Untuk memaksimalkan konsep outdoor, tersedia hammock dan tenda betulan. Yang kurang cuma akar-akar liana yang menjuntai-juntai. Tentu karena Forest Coffee memang bukan untuk Tarzan dan monyetnya yang suka bergelantungan dari pohon ke pohon, meski jelas kedai ini menyasar para penggemar kegiatan alam terbuka.

Saya perhatikan sekeliling, ada beberapa pengunjung yang duduk dan tiduran di hammock, di depannya ada meja untuk menaruh makanan atau minuman. Mereka bisa tetap makan sembari leyeh-leyeh di hammock. Terlihat santai dan menikmati.

Ada juga tenda bagai tempat berkemah di gunung. Banyak anak-anak yang antusias dan girang bermain, seakan mereka sedang camping.

Kelebihan lain Forest Coffee adalah tersedianya bean bag, tempat duduk yang menyerupai karung besar. Sebenarnya tempat duduk semacam itu sudah cukup banyak dipakai di kafe-kafe lainnya, tapi keberadaannya di Forest Cafe menjadikannya berbeda. Mungkin karena bean bag memang lebih pas dipasang di alam terbuka. Belum lagi perpaduan warna oranye bean bag yang menyala, kontrasnya serasi dengan furniture kayu di sekitarnya.

Sajian kopi yang bervariasi

Menu andalan Forest Coffee, sesuai namanya, sudah pasti aneka seduhan kopi. Jenis kopi yang disajikan antara lain kopi Gayo, Karo, Bali Kintamani, Toraja, Flores, dan Malabar. Masih banyak lainnya tapi saya tak ingat nama-namanya.

Metode penyajiannya juga bervariasi. Ada metode V60, yakni metode pour over yang membuat kopi lebih beraroma, bersih, dan menyuguhkan sensasi lain saat menikmatinya. Ada metode aeropress yang katanya berasal dari Italia, juga French press yang membuat kopi kehilangan ampasnya sama sekali.

Forest Coffee Depok

Aneka pilihan kopi di Forest Coffee. (Foto: Forest Coffee)

Sayangnya saya kurang suka mengopi hitam, jadi saya pesan saja forest ice blend yang membuat liur meleleh. Gumpalan krimnya seakan berteriak untuk dinikmati. Dan karena perut mulai lapar, saya pesan pizza fries. Bentuknya lucu, pizza dengan topping daging cincang ditaburi saus bolognese dan keju mozzarella, tapi disajikan di atas tumpukan kentang goreng. Aromanya yang khas membuat saya sulit berhenti menikmatinya.

Tersedia juga menu favorit sekaligus unik: softies, kung fu panda, dan kamehameha.

Forest Coffee Depok

Salah satu band pengisi acara. (Foto: Forest Coffee)

“Depok itu komunitasnya banyak banget dan unik-unik. Kami berupaya bisa merangkul mereka. Hal itu bisa untuk memperkenalkan komunitas mereka. Kami fasilitasi kebutuhan mereka, sehingga mereka bisa show off keahlian yang mereka miliki di depan pengunjung,” terang Ita.

Tak terasa sudah 3 jam saya di sana. Tempat yang nyaman, mengusung konsep alam terbuka, serta menunya yang cocok buat anak muda pehobi nongkrong, membuat saya betah berlama-lama. Perut sudah kenyang, pikiran sudah lega, dan mood kembali menyala. Saya putuskan menikmati suasana yang ada sejenak sebelum beranjak.[]

Tanggapi tuturan di atas?

Leave a reply

Atur ulang Katasandi