Empat Hari di Jogja, Kota Seribu Cerita

(Foto: Tia Maya Affrita)

Kabur dari rutinitas kampus yang membosankan, kami nekat ke Jogja tanpa rencana atau persiapan yang matang. Menggendong ransel di punggung, dengan bersemangat kami naiki kereta yang akan mengantar ke Kota Istimewa. Pagi itu kami janjian bertemu di Stasiun Gubeng untuk menaiki Kereta Pasundan yang akan berangkat pukul 08.10. Hati berbunga-bunga membayangkan akan menjalani hal baru yang lain dari biasanya.

Siang baru menjelang ketika kami sampai di Jogja. Pukul 14.00, dari Stasiun Lempuyangan kami langsung menuju penginapan mungil bergaya vintage yang berada dalam gang di tengah kota. Pemiliknya menyambut ramah. Penginapan itu sekaligus adalah tempat tinggalnya. Menginap di sana akan terasa seperti bermalam di rumah kerabat atau saudara. Usai check-in dan beramah tamah, kami bergegas ke kamar dan bersiap-siap menghadapi petualangan hari itu.

Dengan tujuan utama ‘mencari sesuatu yang berbeda dari biasanya’, kami putuskan untuk mengelilingi pusat kota dengan berjalan kaki saja. Beberapa kilometer ke arah Alun-Alun Kidul, ada keramaian yang tak biasa. Rasa penasaran mendesak kami untuk mendekatinya. Rupanya keramaian itu adalah persiapan Upacara Grebeg Maulud yang diadakan oleh Keraton Yogyakarta. Dari penjelasan sesama pengunjung keramaian, Upacara Grebeg Maulud sebenarnya sudah dimulai, agenda awalnya adalah penabuhan gamelan keramat selama 7 hari berturut-turut. Kebetulan sekali acara budaya itu berlangsung saat kami berkunjung di sini. Rasanya perjalanan tanpa rencana ini memang ditakdirkan untuk kami lakukan.

Grebeg Maulud

Esoknya kami rela bangun pagi agar dapat menyaksikan Upacara Grebeg Maulud. Bersama dua orang wisman yang juga hendak menyaksikannya, kami bersama-sama menuju lapangan Keraton.

Lautan manusia. Itu yang mula-mula kami saksikan di sana. Masyarakat Jogja berkumpul menghadiri upacara yang rutin diadakan setiap tahun dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sembari menunggu upacara dimulai, kami berkeliling melihat-lihat dan tentu saja menyantap berbagai macam jajanan yang dijual di sana. Mulai dari martabak, sosis bakar, gulali, gorengan, bakpao, semua lengkap disajikan di lapangan yang mendadak menjadi pasar kuliner dan hiburan rakyat: Pasar Sekaten.

Tengah asyik menyantap salah satu jajanan, tiba-tiba terdengar sorak-sorai bergembira. Yap, Upacara Grebeg Maulud akan segera dimulai. Kami bergegas mendekati kerumunan masyarakat yang sudah memadati sepanjang jalan yang akan dilalui para petugas Keraton. Sayang sekali kami mendapat tempat di belakang. Namun hal itu tidak mengurangi rasa gembira kami yang penasaran akan ritual tahunan Kota Budaya itu.

Upacara Grebeg Maulud

Upacara Grebeg Maulud (Foto: Nadia Ratna Afifah)

Selang tak lama, terdengar suara seruling dari kejauhan, menandakan Upacara Grebeg Maulud resmi dimulai. Antusiasme masyarakat semakin meningkat. Para prajurit Keraton pelan-pelan melewati jalan di antara para penonton sembari memainkan alunan musik. Kemudian acara berlanjut dengan mengarak gunungan-gunungan. Gunungan itu berupa aneka makanan seperti sayur, buah, dan jajanan yang dibentuk meninggi menyerupai gunung. Kabarnya, gunungan-gunungan yang diarak itu bermakna pengayoman sultan tehadap kesejahteraan masyarakat Yogyakarta.

Di ujung jalan tempat berakhirnya arak-arakan, masyarakat menghampiri gunungan-gunungan itu dan berebut mengambil makanan dari susunannnya. Riuh dan ramai sekali, sehingga kami mengurungkan niat untuk ikut menghampiri. Setelah puas menikmati upacara, kami kembali ke Pasar Sekaten.

Hari berangsur siang, kami masih punya waktu panjang untuk menjelajahi Yogyakarta. Tebing Breksi dan Candi Ratu Boko adalah destinasi selanjutnya. Kami pilih mengunjungi Tebing Breksi terlebih dahulu, sebab kata orang Candi Ratu Boko akan lebih bagus dikunjungi pada waktu matahari terbenam.

Tebing Breksi

Dengan mengendarai sepeda motor sewaan, kami tempuh belasan kilometer ke arah timur dari pusat kota Yogya, ke kawasan Prambanan, Sleman. Sayangnya, sesampai di sana hujan turun dengan derasnya, memaksa kami berteduh di warung-warung sekitar meski ingin sekali langsung menikmati Tebing Breksi. Saat mula-mula tiba pun kami sempat kecewa, apa yang terlihat tak seperti yang diharap. Kompleks tebing bekas tambang kapur yang kabarnya megah berwarna putih bersih dengan ukiran sosok Arjuna yang berwibawa, nyatanya berupa tebing kecoklatan dan kotor.

Tebing Breksi

Tebing Breksi (Foto: Nadia Ratna Afifah)

Namun, kami memilih mensyukuri apa yang ada karena kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. Maka, begitu hujan reda, kami bergegas menghampiri tebing dan menaiki anak-anak tangganya.

“Wow!” ucap kami bersamaan sesampai di puncaknya. Di hadapan kami terbentang pemandangan yang luar biasa indahnya. Siluet candi prambanan berselimut kabut membuat kami lupa pada kekecewaan yang sempat kami rasakan. Saat itu kami langsung tersadar, jangan pernah berekspektasi tinggi ketika sedang liburan, agar apa yang didapati bisa menjadi lebih bermakna dari apa yang kita bayangkan.

Pemandangan dari atas Tebing Breksi

Pemandangan Dari Atas Tebing Breksi (Foto: Nadia Ratna Afifah)

Candi Ratu Boko

Menjelang sore, kami lanjutkan perjalanan ke Candi Ratu Boko yang terletak tidak jauh dari situ. Sesampainya di sana, kami berjalan menyusuri sekitar kompleks candi sembari menunggu matahari terbenam. Namun, lagi-lagi kami hampir kecewa dengan apa yang nyatanya terjadi. Tidak ada pemandangan sunset sesuai harapan. Akan tetapi gugusan awan yang menutupi matahari itu pun rasanya tak kalah indah dibanding matahari terbenam yang kami bayangkan. Ya, kami menghibur diri—itu lebih baik daripada sakit hati.

Puas menikmati Candi Ratu Boko, kami kembali ke pusat kota untuk menyesap dan melahap satu scoop es krim gelato di Tempo Gelato, serta seporsi pasta kalkun di Koki Joni. Malam itu kami kembali ke penginapan dengan perut kenyang dan batin terpuaskan.

Bistik Jawa

Hari ketiga di Jogja, sedih mulai terasa karena besok kami harus pulang meninggalkannya. Untuk mengobati kesedihan, kami cari keramaian dengan  mengunjungi pusat wisata belanja paling terkenal di Yogyakarta. Ya, Malioboro! Layaknya wisatawan pada umumnya, kami susuri sepanjang jalan dan berbelanja aneka cendera mata dan oleh-oleh khas Yogyakarta.

Agar sedikit berbeda, kami coba melakukan rutinitas baru juga di sana. Yakni mengunjungi Tourist Information Centre yang hanya ramai didatangi wisatawan mancanegara. Bangunannya tidak begitu kelihatan dari pinggir jalan karena tertutup para pedagang kaki lima. Seorang petugas menyambut kami dengan ramah. Selama hampir satu jam kami berbincang-bincang. Ia jelaskan dari a hingga z mengenai Yogyakarta. Mulai dari sejarah Keraton, tempat wisata yang belum terjamah, hingga rekomendasi kuliner yang mantap.

Salah satu saran kuliner yang membuat kami penasaran yaitu bistik jawa, hidangan kegemaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tanpa menunggu waktu lama, kami bergegas menuju Restoran Bale Raos, tempat menu itu disajikan.

Bistik Jawa Kegemaran Sri Sultan

Bistik Jawa Kegemaran Sri Sultan (Foto: Nadia Ratna Afifah)

Kampung Bule

Kenyang menyantap makanan kegemaran Sultan, kami lanjutkan perjalanan ke daerah kampung bule, yaitu Jalan Prawirotaman. Berbagai macam galeri seni yang dibangun oleh para seniman lokal berjejer di sepanjang jalan. Satu per satu galeri kami masuki, tak henti-hentinya kami berdecak kagum melihat karya yang dibuat para seniman.

Tak lupa, saat waktu makan malam tiba, kami nikmati wisata kuliner malam hari ala bule-bule di kawasan itu. Kami masuki salah satu kafe yang berinterior minimalis, didominasi ornamen kayu. Kafe ini menyajikan menu French dan Mediterranean, dan tentu saja ramai dikunjungi para wisatawan asing. Memesan seloyang pizza berukuran large, kami berbincang-bincang sembari menikmati malam yang hangat.

Hari keempat, kami nikmati betul sarapan di Jogja selagi sempat. Sebab nanti pukul 10 pagi kami akan menuju Terminal Bus Giwangan, meninggalkan kota yang segera akan kami rindukan ini. Pulang. Kembali ke rutinitas masing-masing sebagai mahasiswa di tanah perantauan. Hanya empat hari di Jogja, tapi di hati kami sepertinya telah terangkai seribu cerita tentangnya.

Tanggapi tuturan di atas?

Leave a reply

Atur ulang Katasandi